Obesitas Informasi

Bayangkan Anda hidup sebelum jaman 1990, jaman orang tua kita sedang bekerja meniti karir atau bisnisnya. Jaman belum ada internet, jaman dimana komunikasi masih via telepon dan wartel. Gimana caranya cari peluang kerja atau bisnis yang bagus?

Pertama mungkin denger dari sanak sodara. “Sepupu kamu tuh buka toko di daerah kecil trus sekarang usahanya maju, coba kamu tanya dia buat belajar.” ujar ibumu. Inspirasi datang dari sumber kebenaran terdekat, keluarga. Sumber yang sampai jaman sekarang pun masih dipakai untuk jadi referensi, terutama emak-emak.

Sumber kedua yaitu akses media, dari TV dan koran. Mungkin inspirasi bisa datang dari liputan liputan bisnis yang sukses atau iklan lowongan kerja yang terpampang satu halaman. Coba bayangkan betapa bedanya jaman dulu dan jaman sekarang..

Milyuner jaman dulu pun punya satu ciri khas, yaitu akses yang eksklusif. Milyuner Alm. Sudono Salim (Pendiri Salim Group/Indofood) jaman dulu memulai bisnis dengan menjual besi tua. Bisnis menjual besi tua tidak bisa dilakukan sembarang orang, dibutuhkan akses dan kekuatan. Orang yang punya uang pun belum tentu bisa membeli aksesnya..

Dengan kata lain, penguasa informasi dan akses lah yang memenangkan kompetisi pada jaman dulu. Siapa yang saudara nya punya koneksi, yang dekat dengan penguasa, yang bisa memanfaatkan semua informasi dan akses ini lah yang berhasil pada jaman ini. Saya menyebutnya jaman pra-internet modern.

Internet Membuka Akses

Fast forward ke tahun 2021. Kondisi yang sama yaitu kita sedang merintis karir. Apa tahap awal yang Anda lakukan? Metode-metode lama masih tersedia namun lebih muncul juga metode baru.

Gosip-gosip yang dulunya eksklusif sekarang bertebaran di sosial media, Facebook group, Whatsapp group, dan lain sebagainya. Tehnik-tehnik eksklusif yang menjadi rahasia mungkin bisa ditemukan step-by-step nya di Youtube. Ketik di Google pun langsung terlihat bisnis bisnis orang-orang sukses itu apa aja. Semua informasi terbatas.

Jaman ini sebetulnya sangat enak. Kita bisa mendapatkan semua akses informasi seperti:

  • Trend industri apa yang sedang naik berdasarkan data
  • Belajar sesuatu dari nol (saya belajar digital marketing via Google juga dulu)
  • Networking dengan siapapun

Tapi apakah semua inovasi ini tanpa tantangan? tentu tidak..

Obesitas Informasi

Bulan lalu saya gak bisa tidur setiap malem, apa yang saya lakukan? buka TikTok. Di FYP saya banyak banget muncul konten peluang bisnis dari:

  • Ekspor lidi sawit
  • Trading cryptocurrency
  • Beli NFT
  • Review franchise murah
  • Cara ternak kost-kostan
  • Belajar digital marketing
  • Etc..

Banyak banget konten baru dan ini baru dari satu platform, belum platform sosial media lain apalagi Youtube dan Google. Anda disuguhkan banyak sekali pilihan. Namun layaknya makan di restoran padang yang disuguhin semua lauk, kadang-kadang bingung mau pilih yang mana..

Peristiwa ini bisa disebut obesitas informasi. Informasi yang terlalu banyak muncul sehingga Anda tidak mampu memproses dan berpikir secara rasional. Saat Anda baru menggeluti informasi tadi, yang baru sudah bermunculan. Otak pusing memfilternya.

Dampak paling terasa dari obesitas informasi adalah stres dan susah fokus. Stres karena Anda merasa harus mengikuti semua trend yang Anda dan menciptakan FOMO (fear of mission out), dan susah fokus karena Anda tidak bisa memberikan perhatian penuh dengan lalu lintas informasi yang terlalu ramai.

Saya sendiri mengalami obesitas informasi beberapa bulan terakhir. Banyak sekali konten peluang bisnis dan investasi yang muncul. Mulai dari investasi cryptocurrency, beli NFT, ikut game play-to-earn, beli saham TSLA, IPO unicorn Indonesia, dll. Pusing banget ngikutin sampe ada satu titik saya hampir muntah melihat HP karena tangan ingin scroll tapi otak gak kuat.

Melawan Obesitas Informasi

Ada beberapa tehnik yang saya lakukan untuk mengatasi obesitas informasi namun saya mau bahas kenapa obesitas informasi harus dilawan.

  • Pertama, untuk menjadi mahir dalam suatu bidang Anda butuh meluangkan waktu beribu-ribu jam. Orang yang membuat konten di digital ini sudah melalui fase “belajar” nya dan hanya memperlihatkan sisi suksesnya saja (dengan alasan rasional yaitu attention span kita juga singkat). Jadi Anda tidak bisa mengambil kesimpulan kalau Anda kelewatan karena titik startnya saja beda jauh.
  • Kedua, Anda tidak butuh mengikuti semua trend untuk menjadi sukses, kecuali Anda menjalankan/bekerja di perusahaan media.
  • Ketiga, trend akan selalu datang silih berganti. Namanya juga trend, ada fase naik dan turun. Jadi kalau Anda mendengar trend pertama kali, Anda harus tahu sekarang posisi apa? jangan-jangan Anda sudah diatas. Ada baiknya juga Anda berikan waktu dan sedikit kecurigaan.

OK, kita bahas bagaimana melawan obesitas informasi:

  1. Batasi pemakaian sosial media. Hindari pemakaian sosial media/platform digital lainnya di jam-jam otak tidak bekerja full.
  2. Jangan impulsif! Terutama dengan informasi yang seolah-olah eksklusif dan punya jangka waktu. Selalu berikan jeda waktu agar Anda tidak mengambil keputusan terburu-buru, terutama jika menyangkut uang.
  3. Ganti cara Anda mengonsumsi media digital ke buku. Buku itu sangat menarik karena saat Anda membaca, Anda juga sekaligus berpikir tentang isi buku tersebut. Anda bisa lebih rasional dalam mengambil keputusan dan benar-benar mendapatkan inspirasi.

Join 4000+ others

If you like this content, you should give my email list a try. It’s a very unannoying list, I promise. I mainly use it to send you new content when they come out!

Thanks for subscribing.