Berapa Alokasi Budget Digital Marketing?

Pertanyaan yang paling sulit dijawab adalah pertanyaan yang berkaitan dengan budget. Bukan karena pertanyaannya tidak bisa dijawab namun konteksnya sangat banyak untuk membentuk suatu argumentasi berapa alokasi yang dibutuhkan.

Terutama bagi perusahaan yang belum merasakan dampak digital marketing untuk bisnisnya, namun merasa pergerusan dari efektivitas marketing yang dijalankan di offline. Biasanya bulan desember ini masa-masa yang membuat ketar-ketir karena memasuki periode pengajuan budget untuk tahun depan.

Bagaimana menentukan alokasi budget?

Biasanya terdapat dua pembagian besar yang dilakukan untuk mengalokasi budget digital marketing. Dua pembagian ini dibagi berdasarkan hal yang ingin dicapai dari pengalaman saya memberikan saran ke klien.

Yang pertama berdasarkan proporsi uang yang berani dikeluarkan. Keputusan ini biasa dipakai oleh perusahaan yang masih mencoba dan belum menemukan formula yang pas dalam menjalankan proses digital marketing.

Yang kedua adalah berdasarkan hasil yang ingin dicapai. Biasanya opsi ini dipakai oleh perusahaan yang memang sudah tahu efektivitas dari digital marketing dan mulai berani all-out dalam hal alokasi budget.

Dalam penentuan alokasi, biasanya perusahaan akan menyesuaikan level of urgency dan kemampuan perusahaan dalam mencoba proses baru. Selalu ada kasus dimana perusahaan butuh sekali untuk melakukan digital marketing karena ingin menaikkan growth, hence alokasi budget juga lebih agresif.

 

Biaya apa saja yang akan keluar?

Disini saya bahas hal yang lebih teknikal dari alokasi budget, yaitu biaya apa yang sebetulnya dikeluarkan dalam menjalankan digital marketing. Basically terbagi menjadi 2 juga yaitu:

Yang pertama, Biaya tetap

Yang termasuk dalam biaya ini adalah biaya yang pasti keluar, contohnya gaji karyawan atau jasa agency jika dipakai. Lalu biaya lainnya yang pasti keluar adalah biaya hosting dan maintenance website. Dan sisanya biasanya terpulang dari software-software apa yang dipakai untuk menunjang aktivitas digital marketing.

Seperti contoh kasus di agency saya bekerja, kami menggunakan software-software analytics berbayar yang bisa membantu mengambil keputusan lebih cepat, selain itu juga ada biaya software khusus untuk menunjang pembuatan konten media digital.

Kedua, Biaya Variabel

Biaya variabel sangat tergantung dari agresivitas dari yang diinginkan oleh perusahaan. Biasanya biaya variabel tergantung dari seberapa banyak output yang diinginkan. Output ini bisa berbentuk berapa konten yang ingin dikeluarkan per minggu, berapa video yang ingin kita upload, atau bahkan sampai berapa jangkauan iklan yang kita inginkan untuk dicapai?

Biaya variabel disini cenderung gampang-gampang susah dihitung kecuali biaya yang sudah pasti keluar seperti biaya iklan yang dibayarkan ke Google/Facebook. Karena perhitungan pembuatan konten biasanya tergantung jenis sumber daya yang akan dipakai.

Selain itu biaya variabel juga biasa termasuk juga biaya penyusunan strategi. Kembali lagi ke se-agresif apa perusahaan. Jika strategi yang disusun dari awal tahun bisa disinkronkan mungkin tidak butuh adanya biaya tambahan strategi. Namun jika banyak sekali pesan yang disampaikan (biasanya pesan promo) maka harus ada strategi khusus yang memastikan semua strategi efektif dan tidak bentrok.

 

Kesimpulan

Batasan koridor dari perusahaan dalam batasan budget atau hasil akan selalu ada. Biasanya alokasi juga mempertimbangkan apa effort yang akan dikeluarkan. Jawaban berapa yang harus dialokasi akan sangat tergantung dari kondisi yang dipunyai perusahaan juga. Dalam pengalaman saya, brand perusahaan yang sudah well established di offline biasanya akan membantu komponen-komponen tertentu yang pada akhirnya bisa ada effort yang dikurangi, tetapi kasus ini cukup jarang.

Sebagai disclaimer, dalam pengalaman saya tidak ada pembagian yang benar untuk semua perusahaan. Semuanya berbalik lagi terhadap tahapan bisnis perusahaan ada dimana. Tidak bijak juga untuk perusahaan yang belum mendapatkan justifikasi hasil dari digital marketing untuk melakukan sudden jump dalam alokasi budget. Dampaknya bisa berlanjut kemana-mana, kemungkinan timnya menjadi kagok dengan budgetnya terlalu naik selalu ada.