Bodohnya Melabel Diri Sendiri

Halo, lama tidak update ya. Beberapa minggu yg lalu saya terkena COVID-19 dan recovery sembari isoman. Sungguh tidak terduga sekali karena saya sangat jarang keluar rumah, dan hanya beraktivitas di kamar. Untungnya sekarang semua sudah pulih dan saya sudah bekerja seperti biasa kembali.

Pada kali ini saya ingin membahas soal pengalaman pribadi tentang melabeli diri sendiri. Dulu saya suka sekali ikut test personality. Hampir semua test personality sudah pernah saya kerjakan, hanya untuk mengetahui siapa sih diri ini sebenarnya. Hasil yang menurut saya akurat waktu itu adalah test dari MBTI, saya seorang ENTP.

ENTP (Extroverted, Intuitive, Thinking, Prospecting) adalah personality yang unik, jarang, dan keren menurut saya. Dipandang sebagai orang yang suka menantang ide-ide lama dan mempertanyakan semua hal. Kreatif dan disruptif. Saya rasa ini saya banget deh. Tapi ini hasil test 2 tahun lalu.

Tahun ini saya test lagi dan hasilnya berubah, saya menjadi seorang INTJ. Kaget dong kok ada 2 huruf yang berubah. Pertama saya menjadi lebih introvert, dan saya tidak prospecting lagi. Lalu apakah identitas kreatif dan disruptif yang saya miliki ini musnah?

Saya juga suka untuk mendekatkan identitas diri dengan sosok yang saya kagumi. Oh ada seorang penulis yang sangat stoic, sepertinya saya juga stoic deh. Ada founder startup yang merasa meditasi menjadi cara ia bisa sukses, saya juga bisa meditasi untuk sukses dong. Ada orang yang lucu dan menjadi populer dikalangan wanita, gimana ya jadi lucu seperti dia.

Promo: Buat Anda yang ingin belajar dasar Google Ads secara intensif, saya akan mengadakan kelas dengan Glints hari Sabtu ini (21 Aug), klik link ini untuk mendaftar.

Menumpuk, ditumpuk, dan tertumpuk lah identitas saya, tanpa memahami siapa diri sendiri sebenarnya. Label yang saya miliki terlalu banyak, dan mungkin bukan label yang menggambarkan diri sendiri. Label yang tadinya saya ambil karena merasa tidak punya identitas yang kuat, malah mengacaukan identitas sendiri.

Saya pun juga melihat orang lain dengan cara yang sama, memasukkan mereka dalam kotak kecil yang berlabel. Oh ini si dokter, oh dia kerja di startup, oh suaranya bagus. Label yang diberikan biasanya seputar pekerjaan, bentuk fisik, sifat menonjol, dan hal lainnya yang mudah dikotakan. Apakah itu menggambarkan orang tersebut seutuhnya? Saya rasa tidak.

Saya jadi belajar untuk tidak melabeli diri sendiri. Label membatasi saya untuk bertumbuh. Jika saya percaya label saya adalah seorang pekerja, saya tak akan mampu berani bermimpi melakukan hal yang lebih dari itu. Saya bukan hanya seorang William yang dikenal oleh orang lain, namun lebih kompleks. Label menutup kemungkinan, dan semakin lama pintu kemungkinan akan beneran tertutup.

Anda pun juga bisa belajar hal yang sama. Coba lihat diri sendiri dan orang lain adalah entitas yang lebih kompleks dari yang mereka tunjukkan. Tukang parkir depan Alfamart mungkin punya kemampuan menulis yang luar biasa, pembantu rumah tangga itu mungkin sejak kecil sering menabung dan investasi saham, atau bahkan artis selebgram mungkin punya sisi lain yang mengejutkan.

Walaupun susah, coba melihat tanpa label. Tanpa penilaian diawal. Tanpa merasa diri sendiri paling benar. Dan yang terpenting tidak menjauhkan diri dari identitas kita sebetulnya. Sangat ironis bukan saat orang merasa dirinya paling benar, namun memojokkan orang lain ke kotak label “orang salah”.

Join 1000+ others
If you like this content, you should give
my email list a try. It's a very unannoying list,
I promise. I mainly use it to send you
new content when they come out!
Please check your inbox to confirm your subscription. Thanks!