Google: The Spam Hunter

Google memang sudah menjelma menjadi suatu monster raksasa yang menjaga internet. Menjaga as in memerintah. Semua perubahan yang dilakukan oleh Google menjadi hal yang wajib dilakukan semua orang, termasuk kompetitornya. Ada saat dimana Google meminta semua website harus mobile-responsive, maka semua website harus melakukannya atau ranking website akan diturunkan.

Sisi positifnya adalah selama ini perubahan yang dibawa Google memang menambah kenyamanan mencari informasi di internet. Tidak ada perubahan yang misalnya mendukung spam. Semua website harus punya iklan kayak detik.com yang canggih banget, saking canggihnya susah di close.

Ngomong-ngomong tentang spam, Google sangat anti dengan spam. Buat para spammers yang tujuannya macem-macem dari mendapat klik iklan sampai penipuan,

This is a little bit advice, How long until you realise you can’t beat Google in that way?

Google punya banyak senjata untuk memburu spam

Beberapa tahun ini algoritma Google sering update dan website-website yang diduga spam akan di-takedown. Sebut saja dari algoritma penguin, panda, mobilegeddon, rank brain, you name it. Algoritma ini adalah salah satu dari sekian cara Google menangkap website spam. Namun ada cara lain, yaitu..

Cara manual. Google mengirim lebih dari 4,3 juta pesan untuk para pemilik website memperbaiki websitenya hanya pada tahun 2015.

Tetapi ada cara ketiga yaitu spam reports dari pengguna internet sendiri. Selama tahun 2015 ada lebih dari 400.000 laporan yang ditangani oleh Google. Dari 400.000 laporan, sebanyak 320.000 dianggap website spam oleh Google dan langsung ditangani oleh Google.

Memang jika diurutkan dari peringkat, algoritma adalah senjata utama dari Google. Tetapi jika ditelurusi lebih lanjut, saya sangat tertarik dengan 400.000 laporan spam reports dari pengguna internet seluruh dunia pada tahun 2015. Hal ini sebetulnya menunjukkan para pengguna internet sekarang ingin lebih nyaman mencari informasi, bukan malah masuk ke website yang spam.

Disini menandakan peran Google nantinya akan tergantikan oleh peran pengguna internet. Mungkin kedepannya, Google tidak perlu repot-repot meng-update algoritma nya tetapi tinggal menanggapi keluhan dari pengguna internet.

Dari sisi pemilik website, bagaimana?

Di blog webmaster Google, Google menjelaskan tentang bagaimana ia memburu para website spam. Kebanyakan website yang dianggap spam adalah website yang tidak punya konten bagus alias tidak ada value untuk pembaca.

Menurut Google ada beberapa contoh konten yang tidak ada value yaitu :

  • Automatically generated content
    website yang kontennya dibuat oleh robot, kadang cuma translate dari website lain. Kadang konten nya enggak ada sama sekali, padahal keywordnya ada.
  • Thin affiliate pages
    website yang isinya full jualan, dari awal sampai akhir.
  • Content from other sources
    yang ini dikenal dengan istilah bahasa sunda nya, copas. Mau di re-write pakai tool apapun nantinya akan ketahuan juga kok.
  • Doorway pages
    halaman website yang mengarah ke halaman website lain yang menuju ke halaman website lain yang sedang ke halaman lain, baru ke konten yang sebenarnya. Intinya saat menuju suatu halaman, kita diajak berputar-putar dulu baru dapet informasi nya.

Saran buat pemilik website lain, tobat lah dari cara-cara diatas kalau masih ingin kerjasama dengan Google.