Penyebab Utama Demo Sopir Taksi: Lalai
Akhir-akhir ini sebuah kabar yang tak menyenangkan datang dari Jakarta. Para sopir taksi konvensional yang pada awalnya melakukan demo untuk memprotes para taksi online, malah berakhir dengan sangat ricuh. Ujung-ujungnya yang kasian malah sopir taksi yang enggak ikutan demo. Karena dianggap enggak solider, mereka pun menjadi pelampiasan dari sopir taksi lain.
Mungkin masalah ini memang sedikit telat dibahas sekarang karena sudah banyak pengalihan isu yang lain. Tapi ijinkan saya untuk membahas ini dengan perspektif yang berbeda. Menurut saya para sopir taksi konvensional itu enggak salah sepenuhnya.
Enggak, saya enggak typo. Baru-baru ini saya baca sebuah buku berjudul Indiepreneur karya Pandji Pragiwaksono. Di bab yang berjudul “Peluang Tanpa Uang” dibahas beberapa contoh mengenai kisah pembajakan yang terjadi di dunia. Dan in some way, saya ngerasa kalau taksi online ini adalah pembajak dari taksi konvensional.
Untuk membahas ini kita harus mundur beberapa langkah ke jaman teknologi belum maju. Dulu saat radio pertama kali ditemukan, radio hanya dipakai untuk kebutuhan militer negara. Pemakaian untuk urusan selain militer sangat dilarang. Mungkin karena alasan kerahasiaan informasi. Sampai pada suatu hari ada sebuah radio ilegal yang memainkan musik Rock N Roll. Radio ilegal ini dianggap sebagai pembajak karena alasan utama yang paling jelas, mereka ilegal.
Pembajakan ini tentu ditentang keras oleh negara. Protesnya pasti melebihi skala protes taksi konvensional. Tapi lihat sekarang, semua radio pasti menyiarkan musik.
Masih enggak percaya?
TV Kabel pertama kali muncul di Amerika tahun 1948. Dan surprisingly TV Kabel bahkan pernah dituntut secara hukum karena dianggap membajak. Selama 30 tahun, TV Kabel beroperasi mirip seperti situs berbagi konten. Ilegal. Tapi coba lihat hari ini!
Ada satu kesamaan antara contoh-contoh diatas, yaitu sesuatu yang mereka tawarkan lebih baik dari sesuatu yang sudah ada saat itu. Lebih baik disini bisa berarti lebih cepat, lebih murah, lebih pintar. Tapi terkadang lebih baik adalah saat dimana sesuatu yang ‘baru’ bisa menyelesaikan keresahan yang tidak terselesaikan oleh sesuatu yang sudah ada saat itu.
Kita ambil contoh TV Kabel tadi. Jika ditelusuri, sebetulnya TV Kabel ditemukan karena ingin menyelesaikan suatu permasalahan. Pada jaman dahulu, jika kita ingin menonton TV maka kita harus memasang tiang pemancar sinyal yang tinggi banget. Kalau tidak tinggi, saluran TV nya enggak bisa masuk ke TV.
Di Mahanoy City (Kota asal penemu TV Cable, John Walson) pada tahun 1940-an, bangunan tinggi sudah banyak banget dan banyak juga gunung-gunung tinggi yang mengganggu sinyal TV. Otomatis sinyal TV hanya bisa didapatkan oleh beberapa orang yang beruntung saja. John Walson melihat peluang ini sehingga ia membuat teknologi yang bisa mengalirkan sinyal TV lewat kabel.
Hal yang sama juga terjadi pada radio. Sebelum adanya radio, hiburan yang tersedia untuk masyarakat sangat terbatas. Kedatangan radio memberikan solusi untuk ketiadaan hiburan tadi.
Sekarang kita kembali ke topik protes taksi tadi. Jika mengikuti pola diatas, berarti sebenarnya kedatangan taksi online itu adalah hasil dari keresahan terhadap taksi konvensional sendiri. Jadi apa saja keresahan yang terlewatkan oleh para taksi konvensional ini?
Siapa sih yang belum pernah ngerasain susahnya naik taksi konvensional? memesan taksi konvensional itu ribetnya setengah mati. Kalau kita dipinggir jalan, kita harus melambai-lambaikan tangan ke jalan. Siapa yang pernah udah melambaikan tangan karena taksi yang diliat udah pasti kosong, eh taksinya malah dengan angkuh enggak menghiraukan kita?
saya pernah. Sering.
Masih mending kalau cuacanya cerah, kalau gerimis? kalau hujan? Otomatis kita harus menelpon taksinya (kalau punya nomornya), dan harus nunggu kira-kira 20 menit sampai taksinya datang. Ya kalau lebih kita diwajibkan untuk maklum.
Itu baru permasalahan saat mencari taksi, belum termasuk saat didalam taksi. Banyak sekali kemungkinan yang bisa terjadi dari enggak ada argo jadi kita nego (btw malah jadi pantun), enggak ada kembalian, sampai yang benar-benar parah kayak minta ongkos yang lebih dari argo dengan alasan uang tip. Padahal sopir taksinya bau ketek.
Menurut pendapat saya dengan pengalaman yang sama kayak saya diatas, pasti enggak banyak orang yang bilang naik taksi konvensional itu pengalaman yang menyenangkan.
Taksi online datang sebagai malaikat yang turun. Keresahan-keresahan para penumpang langsung sirna dengan fitur-fitur yang ditawarkan oleh taksi online. Taksi online benar-benar memperbaiki ketidaknyamanan kita dengan taksi.
Permasalahan memesan taksi diselesaikan dengan menghubungkan kita sebagai penumpang dan supir taksi online dengan aplikasi. Di aplikasi tersebut kita bisa melihat posisi taksi yang tersedia dan kalau kita memesan layanan nya, muncul informasi kalau taksi tersebut sudah menuju tempat kita. Biasanya sopirnya akan sms atau telepon untuk konfirmasi mereka sudah on the way. Memang simpel tapi sebagai penumpang kita jadi ngerasa lebih tenang kan?
Tata cara pembayaran pun diperbaiki dengan sangat rapi. Tarif taksi online disesuaikan dengan jauh-dekatnya jarak yang ingin ditempuh, di-integrasikan dengan Google Maps. Sistem ini menurut saya lebih transparan karena kita tahu dengan pasti jarak yang ingin ditempuh dan meminimalisir kemungkinan supir taksi nakal yang membawa kita muter-muter komplek rumahnya sebelum ke lokasi kita. Dan sistem pembayaran pun dilakukan dengan kartu kredit dimana kita enggak harus ngasih uang langsung ke supirnya (di Indonesia ada beberapa kota yang mempunyai fitur membayar cash).
Selain itu fitur yang paling penting adalah keramahan dari sopir taksinya sendiri. Taksi Online mempunyai fitur rating terhadap sopir taksinya. Jadi jika kita tidak puas dengan pelayanan sopir tersebut dan memberi rating yang jelek, pasti sopir tersebut enggak bakalan dapet banyak job dan ada kemungkinan diberhentikan. Jadi dengan sistem ini, semua sopir taksi online yang ingin survive bakalan sopan, ramah, dan enggak bau ketek. 🙂
Oke mungkin ada beberapa yang baca tulisan ini berpikir, kok saya seakan-akan menyalahkan taksi konvensional ya? Sesuai pernyataan saya di awal, saya tetep merasa kalau protesnya sopir taksi konvensional ini tetap bukan salah para sopir taksi konvensional sepenuhnya.
Mereka tetap bersalah. Tetap. saya tetap merasa perbuatan anarkis mereka tidak bisa diampuni. Tapi jika ditelusuri lebih lanjut yang bertanggung jawab sebetulnya adalah perusahaan taksi konvensional nya sendiri.
Di dalam bisnis, persaingan itu pasti akan selalu ada. Selama ini bisnis taksi konvensional ya lawannya taksi konvensional lain. Tentu akan selalu ada inovasi untuk meningkatkan daya saing perusahaan. Dulu perusahaan taksi BlueBird mengeluarkan taksi model Brio agar bisa memuat lebih dari 4 orang. Kenapa perusahaan taksi yang lain enggak protes tuh?
Dari tahun ke tahun, saya yakin sebenarnya perusahaan taksi konvensional itu sadar bahwa mereka punya kekurangan dalam hal melayani pelanggan. Hal ini yang membuat saya berpikir kalau sepertinya kelalaian dari memperbaiki kekurangan ini lah yang membuat perusahaan taksi konvensional direbut pasarnya oleh taksi online. Mereka mungkin terlalu arogan untuk sempat berpikir akan ada taksi yang pelayanannya bagus.
Arogansi ini terlihat dari tidak membaiknya pelayanan yang diberikan oleh sopir taksi konvensional. Dan celah ini diambil oleh taksi online. Jadi jangan salahkan penurunan kinerja ke orang lain kalau memang penyebabnya karena kelalaian sendiri. You’ve got your chance.
Usaha protes-protes seperti tempo hari itu tidak akan merubah banyak hal. Sejarah selalu berulang. Sewaktu jaman radio dan TV Kabel yang protes bahkan pemerintah, tetapi tetap enggak bisa ditahan. Masyarakat selalu lebih memilih yang lebih baik.
Jadi yang bisa dilakukan oleh perusahaan taksi konvensional adalah menerima perubahan ini. Jaman memang berkehendak bahwa semua hal menggunakan teknologi. Beberapa perusahaan taksi konvensional juga ada yang mencoba meniru strategi ini namun tidak terlalu efektif. Karena mereka tidak sadar bahwa kekurangan nya bukan tidak punya aplikasi, tapi pelayanannya ke penumpang tidak memuaskan.
Coba bayangkan jika para sopir taksi konvensional punya sistem dan kualitas yang sebaik taksi online. Hilangkan dahulu variabel aplikasi-onlinenya. Bayangkan saat kita menelpon untuk memesan taksi, supir taksi langsung memberikan konfirmasi sedang menuju kesana dengan perkiraan estimasi waktu. Bayangkan jika saat kita masuk ke taksi konvensional bukan kecuekan atau bahkan amarah yang didapat, melainkan perasaan nyaman dan aman. Bayangkan jika tidak ada sama sekali sopir taksi yang menipu argo, semuanya jujur. Pasti dampak dari taksi online tidak akan seheboh ini.
Semoga saja perusahaan taksi konvensional cepat sadar sehingga tidak ada pihak yang dirugikan. Jadi sopir taksi konvensional tidak perlu anarkis di jalan raya.