Bagaimana Whatsapp Mencapai 1 Milyar Pengguna Tanpa Biaya Marketing – Part 1

Jumlah pengguna Whatsapp sekarang 1 Milyar loh (Blog Whatsapp). Keren banget. Jumlah ini 4x lipat lebih banyak dibanding jumlah penduduk Indonesia. Bisa ngebayangin kalo Whatsapp pasang iklan bisa berapa tuh duitnya.

Akan tetapi yang aneh dari Whatsapp adalah mereka gak ada budget sama sekali buat marketing, PR, ataupun user acquisition. Trus strategi growth hacking apa yang mereka pake?

Jan Koum, Founder Whatsapp, mendirikan Whatsapp di April 2009. Dalam 7 tahun berjalan, Jan Koum selalu memegang prinsip “Do one thing, and do it well.” (Forbes) dalam membuat Whatsapp jadi pengirim pesan paling bagus. saya juga termasuk pengguna Whatsapp dan emang suka dengan Whatsapp karena simple. Saking seriusnya dengan bikin aplikasi pengirim pesan yang paling bagus, Jan Koum menempelkan “No Ads! No Games! No Gimmicks!” di mejanya.

notes in jan koum's desk
Source : Sequoia Capital

Jadi, strategi growth hacking apa yang dipake Whatsapp? Udah jelas-jelas mereka ga ada budget marketing, PR, maupun user acquisition. Dibawah ini ada dijabarin strategi apa aja yang dipake whatsapp. Bukan saya yang ngerumusin tapi GrowthHackers. Disini saya mempersimpel bahasanya dan tentunya pake bahasa Indonesia.

  1. Channel distribusi
    Tahun 2009, sewaktu Whatsapp meluncur, smartphone lagi rame-ramenya dan akses internet dari mobile meningkat. Jadi Whatsapp mengambil kesempatan dengan bikin aplikasi yang bisa dipake di semua OS, gak terbatas ke satu OS tertentu kayak BBM. Whatsapp tau peluang terbesar mereka itu di banyaknya orang yang akses internet lewat mobile. Jadi mereka sangat memastikan user experience yang paling bagus, dan aplikasi Whatsapp juga dipastikan ga bakal lag di hp apapun, mau OS apapun, apalagi buat hp yang udah tua.
  2. Alternatif SMS dan MMS yang lebih murah dan lebih bagus.
    Saat Whatsapp diluncurkan itu yang pake smartphone belum seheboh sekarang, dan sewaktu itu SMS masih dibilang pengirim pesan yang paling bagus karena gak ada yang lebih bagus. Jaman itu emang udah ada BBM tapi buat kirim pesan lewat BBM kan saya harus add pin bb nya dulu. Which is repot banget dibanding Whatsapp yang tinggal masukin nomor hpnya. Dan hanya pake data internet aja, gak perlu pake pulsa. Aplikasi Whatsapp langsung menggeser pengguna SMS jadi pengguna Whatsapp.
  3. Berpikir Global
    Dari awal Whatsapp didirikan, misinya emang pengen menyatukan dunia lewat pengiriman pesan. Disini saya ada sedikit cuplikan Blog Whatsapp pas mereka nyampe 400 juta pengguna,

“There was the woman from New Zealand who moved to South Africa to complete her PhD. The week before she left to go back home, she met the man of her dreams. Despite living thousands of miles apart, she told us that WhatsApp has allowed them to feel closer than ever. We also heard from a British woman who runs a charity in Uganda. She told us that her team on the ground uses WhatsApp to send daily reports, photos, and videos of the children they’re helping, which she shares to build support for her organization all over the world. Doctors in India are using WhatsApp to instantly send electrocardiogram pictures of patients who’ve suffered heart attacks, saving valuable time and potentially lives.In the mountains of Madrid, rescuers used WhatsApp to locate and save lost hikers.”

Misi Whatsapp sangat gede dan membantu banyak orang. Bayangin bukan cuma abg-abg yang terbantu, bahkan Whatsapp bisa membantu nyelametin orang lebih banyak. Contoh diatas bisa dipakai sebagai social proff buat yang masih ragu pake Whatsapp.

Dengan hanya bikin pengirim aplikasi yang bener-bener bagus, Whatsapp bisa tuh dapetin pengguna yang jumlahnya fantastis. Tanpa marketing sama sekali, dan dalam waktu yang sangat singkat. Sampe disini aja part pertama dari Bagaimana Whatsapp mencapai 1 Milyar pengguna tanpa biaya marketing. Part keduanya lanjut disini ya.