William Jakfar Subscribe

Tools / Gratis

Tes Skala Toleransi Risiko

Website ini nggak nyimpen data apa-apa, semua cuma tersimpan di browser kamu.

1. Kalau teman deket kamu ngomongin soal ambil risiko, kira-kira mereka bakal bilang kamu itu:
2. Kamu lagi di kuis TV dan disuruh pilih salah satu, kamu ambil yang mana?
3. Baru aja nabung buat liburan "sekali seumur hidup". Tiga minggu sebelum berangkat, kamu kehilangan pekerjaan. Kamu bakal:
4. Tiba-tiba kamu dapet Rp300.000.000 buat diinvestasikan, kamu bakal ngapain?
5. Berdasarkan pengalaman, seberapa nyaman kamu investasi di saham atau reksa dana saham?
6. Waktu denger kata "risiko", hal pertama yang terlintas di kepala kamu apa?
7. Kebanyakan investasi kamu sekarang ada di obligasi pemerintah dengan bunga tinggi. Kamu bakal:
8. Dari opsi hasil investasi berikut, kamu pilih yang mana?
9. Selain harta yang kamu sudah punya, kamu dapet kesempatan memenangkan uang. Mana yang kamu pilih?
10. Kamu punya kesempatan untuk bertaruh, mana yang kamu pilih?
11. Misalnya ada kerabat yang ngasih warisan Rp 1.500.000.000 dengan syarat kamu investasikan SEMUA ke salah satu opsi berikut. Kamu pilih:
12. Kalau kamu harus investasi Rp 300.000.000, opsi mana yang paling menarik buat kamu?
13. Temen deket dan tetangga kamu yang jago geologi lagi ngumpulin investor buat dana eksplorasi tambang emas. Kalau tambangnya berhasil, investasimu bisa 50-100 kali lipat; tapi kalau gagal, semua hilang. Peluang sukses cuma 20%. Kalau kamu punya duitnya, kamu investasikan berapa?

Apa itu toleransi risiko?

Toleransi risiko adalah seberapa nyaman kamu melihat nilai investasi naik turun demi peluang hasil yang lebih tinggi. Ada orang yang tetap tenang saat portofolionya turun 20%, ada juga yang langsung panik dan menjual semuanya.

Mengenal toleransi risiko sendiri penting supaya kamu memilih investasi yang bisa kamu pegang sampai tujuannya tercapai. Investasi terbaik di atas kertas nggak ada gunanya kalau kamu jual di saat yang salah karena takut.

Tentang tes ini

Tes ini memakai skala 13 pertanyaan dari John Grable dan Ruth Lytton, peneliti perencanaan keuangan yang skalanya banyak dipakai untuk mengukur toleransi risiko. Pertanyaannya soal sikap kamu terhadap uang, kerugian, dan peluang, bukan soal pengetahuan investasi.

Setiap jawaban punya nilai, lalu dijumlahkan. Dua pertanyaan soal taruhan (nomor 9 dan 10) menanyakan hal yang sama dari dua sisi, jadi nilainya dirata-rata dan dihitung sekali. Skor akhirnya antara 12 dan 44:

SkorToleransi risiko
33–44Tinggi (Kamu berani banget ambil risiko).
29–32Di atas rata-rata (Risiko kamu lumayan tinggi).
23–28Sedang (Risiko kamu pas-pasan).
19–22Di bawah rata-rata (Kamu cenderung anti risiko).
12–18Rendah (Kamu bener-bener anti risiko).

Cara memakai hasilnya

Secara umum, makin rendah toleransi risiko, makin besar porsi instrumen yang stabil seperti reksa dana pasar uang, deposito, dan obligasi. Makin tinggi toleransi risiko, makin besar porsi saham atau reksa dana saham yang bisa kamu tahan.

Tapi toleransi risiko baru setengah cerita. Setengahnya lagi adalah kemampuan menanggung risiko: berapa lama uangnya baru dipakai, dan apakah dana darurat sudah siap. Uang untuk kebutuhan dua tahun lagi sebaiknya tetap di instrumen yang aman, seberani apa pun kamu.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Apakah hasilnya bisa berubah?

Bisa. Toleransi risiko biasanya berubah seiring umur, penghasilan, tanggungan, dan pengalaman. Ulangi tes ini setiap kali hidupmu berubah besar, misalnya menikah, punya anak, atau ganti pekerjaan.

Skor saya rendah, berarti saya nggak boleh investasi saham?

Bukan begitu. Skor rendah artinya kamu perlu mulai dengan porsi kecil, pilih produk yang terdiversifikasi seperti reksa dana indeks, dan siapkan dana darurat dulu supaya nggak terpaksa menjual saat pasar turun.

Setelah tahu profil risiko, lalu apa?

Tentukan tujuannya dulu, lalu hitung berapa yang perlu diinvestasikan. Coba kalkulator compounding untuk melihat pertumbuhan investasi bulanan, atau kalkulator dana pensiun untuk tujuan jangka panjang.

Gabung dengan 25.000+ subscriber

Untuk jadi lebih pintar tiap minggu dari email mingguan saya.